Mencari Alasan Untuk Membenarkan Kegagalan Penjualan

Kira-kira 400 tahun yang lalu Shakespeare seorang pujangga terkenal dari inggris memberi nasehat “Mr. Salesman, kesalahan tidak terlatak pada bintang-bintang di langit tetapi pada diri tuan sendiri”. Nasehat itu sekaligus juga sebagai kritikan yang sangat mengena kepada seorang Penjual. Kesalahan terbesar yang di buat para Penjual adalah mencari-cari kesalahan pihak lain dansekaligus mencari pembenaran akan kelemahan diri sendiri. Mereka menganggap bahwa kegagalan mereka bukan di sebabkan oleh kelemahan mereka.
Seorang Penjual datang ke calon pembeli untuk menawarkan dagangannya, dan tentu saja dia akan berharap bahwa calon pembeli tadi akan terpikat dan membeli dagangannya. Setelah bla.. bla.. bla panjang lebar dalam melakukan wawancara penjualan maka ada dua kemungkinan, si calon pembeli tadi tertarik dan dia pulang dengan membawa pesanan. Tapi kemungkinan yang ke dua, si calon pembeli menolak. Bila kemungkinan pertama yang terjadi tentu tidak akan menjadi masalah. Tapi bagaimana bila kemungkinan kedua yang terjadi? Tentu saja dia akan sangat kecewa, kenapa dia gagal. Dan dengan cepat dia akan menghilangkan kekecewaannya dengan berpikir bahwa –produk yang dia bawakan memang tidak bagus. – Harganya terlalu mahal. -Tidak ada dukungan dari Perusahaan tempat dia bekerja berupa iklan yang baik. –Waktunya tidak tepat. –Terlalu banyak saingan. –dan masih banyak lagi seribu satu alasan yang ada di kepala untuk membenarkan kegagalan tersebut.
Dan memang alasan tadi sepertinya masuk akal dan benar adanya. Tapi mungkin juga tidak benar tidak selamanya kegagalan disebabkan hal seperti itu. Bahkan para penjual sendiripun jarang yang memperdulikan hal itu. Mereka cuek, acuh tak acuh dan bahkan mereka menerima apa adanya tanpa mau berpikir lagi. Otomatis dia melemparkan tanggung jawab pribadinya, dia tidak mau menerima kenyataan bahwa kegagalan itu mungkin disebabkan oleh kelemahan dan kesalahannya sendiri, bukan pihak lain. Penjual menolak untuk melakukan koreksi diri. Merenungkan kegagalan, mengapa bisa terjadi seperti itu. Apa ada yang salah dalam melakukan wawancara penjualan? Apa kurang bersemangat dalam diskusi dengan calon pembeli? Atau dia tidak bisa memuaskan dalam memberikan jawaban pada calon konsumen?
Pertanyaan –pertanyaan tadi pantas untuk di renungkan dan di sadari bahwa ini sangat penting untuk kemajuan si penjual itu sendiri. Dan sekali lagi jawaban dari pertanyaan tersebut sangat sulit, disebabkan para penjual cenderung untuk tidak mau disalahkan dan membenarkan kesalahan sendiri.
Namun bila hal ini dibiarkan saja, di mana para penjual tidak mau berpikir positif untuk merenungkan segala kegagalanya bukan tidak mungkin bahwa dia nanti juga akan menyalahkan departemennya, atasannya atau perusahaan tempat dia bekerja. Bila hal ini sampai terjadi, si penjual tadi akan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan yang lebih fatal dan akan terulang lagi…lagi…dan lagi. Akibatnya bisa di tebak dia akan berjalan di rel yang salah dan akan terus-menerus menemui kegagalan dalam penjualan.
Tapi tidak selamanya penjual mengalami hal seperti itu. Banyak penjual menyadari kelemahannya dan dia akan meninggalkan jalan tersebut untuk kemudian berjalan menuju kesuksesan penjualan. Dan ini semua bisa di lakukan. Ada tiga hal penting untuk merubah kecenderungan menyalahkan orang lain;
1. Bersedia menerima kenyataan bahwa kegagalan penjual;an ini karena kesalahan diri sendiri bukan karena orang lain.
2. Berani merubah kesalahan tersebut.
3. Berkemauan untuk tidak mengulang lagi kesalahan-kesalahan yang pernah di buatnya.
Dalam hal ini ada banyak contoh dimana seorang yang dulunya tidak pernah berpikir untuk jadi “Salesman” karena memang merasa tidak bisa berkomunikasi dan bergaul dengan baik, tapi begitu dia bekerja entah mungkin karena terpaksa hanya itu lowongan yang ada, tapi berhasil menjadi penjual yang sukses. Kuncinya hanya satu yaitu Mau belajar.

Tentang Hariyadi

Walaupun bagaimana kecilnya cinta seseorang kepada Allah, maka yang demikian itu lebih aku senangi daripada beribadah tujuh puluh tahun
Pos ini dipublikasikan di Campur Sari, Manajemen dan Pemasaran dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s